Minimalism

20 Feb 2021 • 6 min read

Jadi apa itu minimalism ?
Sebelum menjawabnya saya ingin bertanya dulu.

Apa yang terpikirkan oleh kamu jika mendengar kata minimalis ?
Desain rumah ? Seni lukis ? Seni pahat ?

Well, pernyataan-pernyataan di atas tidaklah salah. Minimalisme atau seni minimalis memang awalnya adalah aliran dalam seni sejak tahun 1960-an. Tapi bukan itu yang akan kita bahas. Kita membahas minimalism tentang gaya hidup atau bahasa kerennya lifestyle.

Bagaimana konsep minimalism ?
Apakah minimalism itu buruk ?
Bagaimana menjalani kehidupan secara minimalis ?
Apakah kita dapat lebih bahagia dengan hidup minimalis ?

Bagaimana konsep minimalism ?

Kesalahpahaman tentang minimalist adalah sengsara dan pengorbanan dengan memiliki lebih sedikit barang-barang dan hal-hal lainnya seperti pengalaman.

Minimalism bukan hanya tentang kamu membuang barang-barangmu yang tidak memiliki nilai dan memangkas banyak hal dalam gaya hidupmu tetapi lebih dari itu, minimalism adalah tentang bagaimana kamu menjalani hidupmu jadi lebih bermakna, konsep ini mirip seperti ikigai yang cukup populer di Jepang. Jika belum tahu apa itu Ikigai mungkin kita akan bahas di tulisan selanjutnya.

Yap, minimalism mungkin memang tentang hidup dengan lebih sedikit. Termasuk beban finansial seperti hutang dan pengeluaran yang tidak diperlukan. Tetapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, minimalism bukan hanya tentang memiliki barang yang sedikit. Ada suatu tujuan yang ingin dicapai oleh setiap individu minimalism. Dan mungkin berbeda-beda, tetapi tetap dalam ruang lingkup yang sama. Hidup lebih tenang dan berarti dalam menjalani keseharian.

Apakah minimalism buruk ?

Semua kembali lagi ke individu masing-masing. Seperti yang saya katakan di tulisan sebelumnya, jika kamu masih ingat. Tidak ada pilihan yang terbaik, yang ada hanya pilihan yang paling ideal. Dan ideal ini berbeda terhadap setiap individu. Menurut saya gaya hidup minimalis ini memang sangat cocok bagi diri saya pribadi.

Bagaimana menjalani kehidupan secara minimalis ?

Menjalani kehidupan minimalis disini merupakan pengalaman hidup saya sendiri selama ini. Mungkin gaya hidup minimalis setiap orang berbeda-beda.

Saya mau cerita sedikit. Percaya atau tidak saya sudah mulai menerapkan gaya hidup minimalis ini sudah lama sekali,walaupun saat itu memang tidak sepenuhnya bisa disebut minimalis. Dan pada saat itu saya tidak tau apa itu gaya hidup minimalis, yang saya tau hanya gaya arsitektur rumah minimalis. Hal dipicu berawal dari ketika saya masih muda, mungkin sekitar SMP/SMA (ya walaupun sekarang saya bisa dibilang masih muda juga, hehe). Ketika saya tinggal dengan orang tua saya di Kota Padang, Sumatera Barat. Saya merasakan pusingnya melihat barang-barang yang banyak sekali di rumah tetapi jarang atau sama sekali tidak terpakai. Ya, saya merasa stress melihat banyaknya barang tersebut dan barang-barangnya tidak terurus. Dan memang saat itu saya hidup numpang bersama orang tua, jadi asay tidak punya pilihan/control untuk menentukan bagaimana saya menjalani gaya hidup keseharian saya. Tetapi sejak SMA saya cukup selektif dalam membeli dan memiliki barang (walau kadang juga keceplosan, wkwkwk). Saya memikirkan dulu apakah barang ini memiliki fungsionalitas yang cukup berguna bagi saya. Jika tidak saya tidak jadi membelinya. Karena sudah terlalu banyak barang di rumah, pusing euy.

Sampai akhirnya saya merantau ke Jakarta kemaren Oktober 2020. Saya memulai hidup baru lalu hidup mandiri dengan tinggal di kos dengan salah satu rekan kerja. Awal-awal bulan pertama memang sulit ya, kos kami kosong nggak ada barang apa-apa yang terisi. Hanya ada kasur dan beberapa tas dan baju yang kami bawa dari kampung. Tidak ada lemari, meja, kursi, tv (lebih ke belum punya, wkwkwk). Tetapi setelah 2 bulan 3 bulan kami nge kos, saya merasa nyaman dengan space yang cukup lega di kos kami, dengan tidak banyaknya barang di kos. Karena saya pikir-pikir, belum tentu saya akan menetap di kos ini dalam waktu lama. Dan saya juga belum butuh banyak barang saat itu. Well, saya memang butuh meja dan kursi untuk dapat melakukan pekerjaan dengan nyaman. Tetapi kembali lagi, saya masih belum fix apakah akan benar-benar menetap di kos ini dalam waktu lama.

Saya masih ada berencana untuk pindah, mencari kos yang jaraknya lebih dekat dari kantor. Tetapi masih belum menemukan yang cocok. Jadi saya urungkan niat untuk membeli barang-barang. Saya sudah me-list barang-barang yang saya butuhkan nanti ketika saya sudah fix dengan tempat tinggal saya. Seperti meja dan kursi kerja yang saya bilang tadi, lalau lemari pakaian yang tidak terlalu besar, kalau bisa yang portable. Dan saya sudah menyiapkan budgetnya, tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

Oh dan ya, pakaian saya pun tidak banyak, saya cuma memiliki beberapa helai pakaian baju, celana an jaket. FYI, saya punya 5 helai pakaian kaos. 2 helai kaos polos warna hitam dan abu-abu. 3 helai kaos untuk pakaian santai di rumah. Ya, kaos polos saya untuk beraktifitas di luar. Karena di kantor saya diperbolehkan memakai kaos. Jika kamu teman saya dan mungkin mengikuti instagram saya. Kamu mungkin akan sering melihat saya beraktifitas dengan kaos polos di luar. Dan mungkin kamu heran dan bertanya-tanya, saya ini nggak pernah ganti baju atau gimana. Dan waktu kuliah juga saya sering memakai pakaian yang sama cukup sering.

Ini memang sudah kebiasaan saya yang nggak mau ribet dalam memilih pakaian apa yang akan dipakai ketika pergi keluar. Sejak kuliah saya sering memakai pakaian yang sama. Ini bukan berarti saya tidak pernah mengganti pakaian dan malas mencuci pakai. Hei, saya memiliki pakaian dengan model yang sama minimal 2 helai. Itu karena saya tidak mau repot tadi. Jadi saya sudah menerapkan gaya hidup minimalis bahkan sebelum saya tau gaya hidup minimalis itu sendiri.

Setelah saya tau minimalism itu sendiri ada momen “Oh”. Yang menandakan “Oh, ini gua banget”, wkwkkw. Ya saya merasa apa yang saya lakukan selama ini related banget dengan gaya hidup minimalis ini.

Semua itu saya lakuakan tidak lebih karena betapa stress dan pusingnya saya dulu ketika tinggal dengan orang tua, dengan banyak barang yang ada di rumah. Saya hanya ingin hidup simple dan tidak ribet. Dan gaya hidup minimalis ini sangat cocok/idel dengan saya.

Apakah kita dapat lebih bahagia dengan hidup minimalis ?

Pertanyaan ini mungkin jawabannya berbeda-beda bagi setiap individu. Tetapi bagi saya hidup minimalis ini sangat membantu dalam kebahagiaan, ketenangan, mengurangi tingkat stress, dan membantu saya lebih produktif dan lebih baik lagi. Intinya sih ya saya dapat lebih bahagia dengan hidup minimalis.

Bagaimana dengan kamu ? Apakah sudah pernah menerapkan hidup minimalis tanpa sadar sebelumnya ? Jika sudah bagaimana rasanya ? Tersiksa ? Tidak sesuai dengan diri kamu ? Atau bahagia ? Atau jika belum apakah tertarik dengan gaya hidup minimalis ini ?

Itu semua tergantung kepada pilihan kamu masing-masing, kita sendiri lah yang bertanggung jawab akan diri kita.

Oke sekian dulu tulisan tentang minimalis ini. Mohon ma’af jika terlalu panjang dan berbelit-belit. Maklum saya baru belajar menulis dan seang berusaha berproses menjadi lebih baik.

Untuk waktunya saya ucapkan terima kasih.

Start searching

Enter keywords to search articles.